Tampilkan postingan dengan label Metode Pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Metode Pembelajaran. Tampilkan semua postingan

Contoh Matematika di Luar Kelas

Sambungan...

Kita diskusikan dulu macam yang pertama, yaitu : Kegiatan Matematika di luar kelas untuk pemahaman konsep.

Kita ambil contoh misalkan misalkan : GEOMETRI DI … (Lokasi tertentu yang memungkinkan banyak terdapat bangun-bangun dan sifat-sifat geometri ). Misalnya: (dari yang dekat rumah saya dulu ya)

Geometri di Monumen Jogja Kembali ???


kemudian ke utara dikit...

Geometri Di Borobudur ???


Kembali ke arah selatan rumah:

Geometri di StasiunTugu ???


Ke selatan lewat Malioboro, nah anak-anak pasti suka nih, ... .

Geometri di Taman Pintar ???


Terus gimana dong kegiatannya?, kok jalan-jalan terus?
Oh, iya, gini nich:

Alternatif kegiatan:

Guru:
  • menentukan lokasi
  • menyiapkan lembar kertas berisi istilah, konsep, definisi gemoetri, misalkan persegi, ..., jajargenjang, balok kerucut, ..., tegak-lurus, sejajar, dsb, dsb. Sesuaikan aja dengan materi dan lokasi. Tapi jangan dikira lho kalau siswa kita nggak jeli. Malah bisa lebih jeli dari kita.
Siswa (bisa dalam kelompok) :
  • Memotret dengan kamera, benda, situasi yang terkait dengan konsep-konsep yang diminta.
  • Menampilkan hasil temuannya dalam bentuk poster.
  • Menampilkan poster di kelas dan mendiskusikannya.
diskusi masih akan kita teruskan ya ... , kasih komentar donk

Pembelajaran Matematika di Luar Kelas

Ada beberapa manfaat kegiatan matematika di luar kelas adalah:

1. Membantu siswa memahami dan memperkuat pemahaman konsep melalui kegiatan yang menyenangkan.

2. Mendorong kreativitas dan ketrampilan pecahan masalah siswa melalui situasi nyata sehari-hari.

3. Menanamkan pada siswa bahwa matematika berada di sekitar kita.

4. Membuat siswa belajar matematika dengan cara yang menarik dan menyenangkan.

Secara umum (yang sementara saya amati) ada dua macam kegiatan pembelajaran di luar kelas, yaitu untuk pemahaman konsep dan pemecahan masalah.

Kegiatan Matematika di luar kelas untuk pemahaman konsep.
Salah satu kata kunci untuk membantu kita mencari ide adalah: MATEMATIKA DI ……, secara lebih khusus ke topic, misalkan : GEOMETRI DI …, ALJABAR DI …, TRIGONOMETRI DI, …, KALKULUS DI …. dsb.

Kegiatan Matematika di luar kelas untuk Pemecahan Masalah
Ada dua jenis situasi masalah yang bisa digunakan, yaitu yang alamiah (situasi seadanya) dan buatan (yang sudah di atur).

Bersambung

PERTANYAAN UNTUK PENDEKATAN PEMBELAJARAN

Setelah anda membaca ketiga pendekatan pembelajaran di posting sebelumnya, silakan anda jawab pertanyaan berikut:

Pendekatan Pembelajaran Kontekstual


Kalau pendekatan ini dilaksanakan dalam kelas Anda, kesulitan apa yang mungkin muncul? Menurut Anda, bagaimana cara me-ngatasinya?

Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah

Kalau pendekatan ini dilaksanakan dalam kelas Anda, kesulitan apa yang mungkin muncul? Menurut Anda, bagaimana cara mengatasinya?

Pendekatan Pembelajaran Kooperatif

Kalau pendekatan ini dilaksanakan dalam kelas Anda, ke-sulitan apa yang mungkin muncul? Menurut Anda, bagaimana cara mengatasinya?

Jawaban anda kami tunggu di komentar di bawah posting ini.

PENDEKATAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF

Oleh : Susento dan M. Andy Rudhito
Pendidikan Matematika
FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Apa yang dimaksud pendekatan pembelajaran kooperatif?
Pendekatan pembelajaran kooperatif (cooperative learning) adalah konsep pembelajaran yang membantu guru memanfaatkan kelompok-kelompok kecil siswa yang bekerja bersama untuk mencapai sasaran belajar, dan memungkinkan siswa memaksimalkan proses belajar satu sama lain.

Mengapa diperlukan pendekatan pembelajaran kooperatif?
Perlunya pendekatan pembelajaran kooperatif didasarkan pada kenyataan-kenyataan sebagai berikut:
1. Siswa berbeda satu sama lain. Masing-masing memiliki latar belakang, pengalaman, gaya belajar (learning style), prestasi, dan keinginan/kehendak yang khas. Guru tidak boleh menganggap kelas sebagai kumpulan siswa yang seragam. Namun di lain pihak, guru juga tidak mungkin memperhatikan kekhasan siswa satu demi satu.
2. Belajar membutuhkan bermacam-macam konteks. Dengan bekerja bersama, tiap-tiap anggota kelompok memberi sumbangan sesuai dengan konteks yang dikenalnya masing-masing.
3. Belajar bukan hanya terjadi dalam diri seseorang secara individual tetapi lebih-lebih merupakan proses sosial antara individu dengan orang-orang lain.
4. Hubungan saling-bergantung secara sosial (social interdependence) di antara orang-orang yang berinteraksi mempengaruhi hasil interaksi di antara mereka..
5. Sebagai bagian dari kecakapan hidup (life skills), kecakapan interpersonal siswa perlu dikembangkan dalam proses pembelajaran. Kerja bersama dalam kelompok kecil melatih kecakapan interpersonal dan sekaligus menjadi sarana pencapaian hasil belajar.

Bagaimana cara melaksanakan pendekatan pembelajaran kooperatif?
Pendekatan pembelajaran kooperatif dilaksanakan oleh guru dengan teknik-teknik antara lain sebagai berikut:
1. Teknik Sebaran Prestasi (Student Teams-Achievement Division / STAD):
Siswa berkelompok mengerjakan soal latihan dalam lembar kerja. Tiap kelompok terdiri dari 4 atau 5 orang, yang terdiri dari seorang berkemampuan rendah, seorang berkemampuan tinggi, dan sisanya berkemampuan sedang. Setelah semua kelompok selesai bekerja, guru memberi kunci jawaban soal dan meminta diminta memeriksa hasil kerja. Kemudian guru mengadakan ulangan/kuis.
2. Teknik Susun Gabung (Jigsaw):
Dalam kelompok, tiap-tiap siswa mempelajari satu bagian materi pelajaran dan kemudian menjelaskan bagian itu kepada semua anggota kelompok. Kemudian guru mengadakan ulangan/kuis.
3. Teknik Penyelidikan Berkelompok (Group Investigation):
Tiap-tiap kelompok mempelajari satu bagian materi pelajaran dan kemudian menjelaskan bagian itu kepada semua siswa di kelas.
4. Teknik Cari Pasangan:
Tiap siswa di kelas memperoleh 1 lembar kartu. Tiap kartu berisi 1 bagian materi pelajaran. Kemudian mereka harus mencari siswa-siswa pemegang kartu yang isinya berkaitan dengan isi kartunya. Para siswa yang isi kartunya berkaitan lalu berkelompok dan mendiskusikan keseluruhan materi.
5. Teknik Tukar Pasangan:
Siswa berkelompok mengerjakan soal latihan dalam lembar kerja. Kemudian mereka berganti pasangan kelompok, dan mendiskusikan hasil kerja dari kelompok semula.

PENDEKATAN PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH

Oleh : Susento dan M. Andy Rudhito
Pendidikan Matematika
FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Apa yang dimaksud pendekatan pembelajaran berbasis masalah?
Pendekatan pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning / PBL) adalah konsep pembelajaran yang membantu guru menciptakan lingkungan pembelajaran yang dimulai dengan masalah yang penting dan relevan (bersangkut-paut) bagi siswa, dan memungkinkan siswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih realistik (nyata).

Mengapa diperlukan pendekatan pembelajaran berbasis masalah?
Perlunya pendekatan pembelajaran berbasis masalah didasarkan pada kenyataan-kenyataan sebagai berikut:
1. Pada dasarnya, berpikir terjadi dalam konteks memecahkan masalah, yaitu adanya kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan apa yang ada.
2. Seseorang menjadi tertarik atau berminat mengerjakan sesuatu apabila berada dalam ruang lingkup atau berkaitan dengan masalah yang dihadapinya. Demikian pula dengan belajar.
3. Pada saat mempelajari bahan pelajaran, siswa ingin segera mengetahui apa sebenarnya manfaat mempelajarinya, dan masalah apa sajakah yang dapat dipecahkan dengan pengetahuan atau bahan itu.
4. Suatu kompetensi paling efektif dicapai oleh pelajar melalui serangkaian pengalaman pemecahan masalah realistik yang di dalamnya si pelajar secara langsung menerapkan unsur-unsur kompetensi tersebut.

Bagaimana cara melaksanakan pendekatan pembelajaran berbasis masalah?
Pendekatan pembelajaran berbasis masalah dilaksanakan oleh guru dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Persiapan:
Menyusun masalah yang akan dijadikan titik pangkal (starting point) pembelajaran. Masalah dipilih yang penting dan relevan bagi siswa, serta membutuhkan penerapan gagasan atau tindakan yang terkait dengan atau mengarah pada bahan pelajaran.
2. Orientasi (pengenalan):
a. Menyajikan masalah di kelas.
b. Membangkitkan ketertarikan atau rasa ingin tahu siswa pada masalah.
c. Memberi kesempatan kepada siswa untuk memahami situasi atau maksud masalah.
3. Eksplorasi (penjelajahan):
Memberi kesempatan kepada siswa untuk memecahkan masalah dengan strategi yang diciptakan sendiri oleh siswa. Masalah boleh dipecahkan siswa secara pribadi atau dalam kerjasama dengan siswa lain. Guru memberi dukungan bagi usaha mereka, misalnya dengan menjadi pendengar yang penuh perhatian atau memberi bantuan atau saran sejauh diperlukan.
4. Negosiasi (perundingan):
Mendorong para siswa untuk mengkomunikasikan dan mendiskusikan proses dan hasil pemecahan masalah, sehingga diperoleh gagasan-gagasan atau tindakan-tindakan yang dapat diterima oleh komunitas kelas.
5. Integrasi (pemaduan):
a. Memandu siswa untuk merefleksikan proses pemecahan masalah.
b. Mengidentifikasi dan merumuskan hasil-hasil belajar yang diperoleh dari kegiatan pemecahan masalah.
c. Mengkaitkan hasil-hasil belajar itu dengan pengetahuan sebelumnya, sehingga tersusun jaringan/organisasi pengetahuan yang baru.

PENDEKATAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL


Oleh : Susento dan M. Andy Rudhito
Pendidikan Matematika
FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Apa yang dimaksud pendekatan pembelajaran kontekstual?
Pendekatan pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning / CTL) adalah konsep pembelajaran yang membantu guru mengaitkan materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa, dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapan dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.

Mengapa diperlukan pendekatan pembelajaran kontekstual?
Perlunya pendekatan pembelajaran kontekstual didasarkan pada kenyataan-kenyataan sebagai berikut:
1. Belajar tidak hanya sekedar menghafal, tetapi siswa mengkonstruksi atau menyusun pengetahuan di benaknya sendiri.
2. Anak belajar dari mengalami. Anak mencatat sendiri dalam pikiran pola-pola bermakna dari informasi baru yang ditangkapnya.
3. Pengetahuan yang dimiliki seseorang terorganisasi dan mencerminkan pemahaman mendalam tentang suatu persoalan.
4. Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisah menjadi kepingan-kepingan fakta atau pernyataan yang berdiri sendiri satu sama lain, tetapi merupakan suatu kebulatan yang terkait dengan situasi.
5. Seseorang mempunyai tingkatan, kedalaman, atau keluasan yang berbeda dalam menyikapi suatu hal baru.
6. Seseorang mempunyai kecenderungan untuk menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan dia akan menggeluti apa yang berguna itu.

Bagaimana cara melaksanakan pendekatan pembelajaran kontekstual?
Pendekatan pembelajaran kontekstual dilaksanakan oleh guru melalui kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
1. Kegiatan mengkonstruksi pengetahuan:
a. Menciptakan lingkungan, sarana, dan bahan yang memungkinkan siswa sebanyak mungkin belajar sendiri di bawah bimbingan guru.
b. Memberi siswa pengalaman nyata yang melibatkan mereka secara aktif.
2. Kegiatan penyelidikan (inquiry):
a. Mendorong siswa untuk menemukan, merumuskan dan menganalisis (mengolah) masalah.
b. Memberi banyak kesempatan kepada siswa untuk menyajikan atau mengkomunikasikan hasil belajar melalui berbagai cara seperti tulisan, gambar, laporan, bagan, dan tabel.
3. Kegiatan bertanya:
a. Membangkitkan rasa ingin tahu siswa.
b. Membangkitkan minat siswa untuk bertanya mengenai masalah yang dihadapi atau bahan yang dipelajari..
4. Kegiatan komunitas belajar (learning community):
a. Menciptakan suasana diskusi antar siswa.
b. Mendorong siswa menggunakan berbagai sumber belajar yang ada di sekitar mereka masing-masing.
5. Kegiatan pemodelan:
a. Menampilkan lebih dari satu macam model cara mengerjakan/menemukan sesuatu, sehingga siswa dapat memahami, membandingkan, atau menemukan alternatif.
b. Menunjukkan contoh orang atau karya orang.
6. Kegiatan refleksi (merenungkan kembali):
a. Menyediakan waktu agar siswa mempunyai kesempatan untuk refleksi tentang proses atau hasil belajar.
b. Memandu siswa melakukan refleksi melalui pertanyaan-pertanyaan bantuan.
7. Kegiatan penilaian otentik (penilaian berdasarkan aktivitas nyata yang dilakukan siswa):
a. Menilai kinerja (unjuk-kerja / performance) siswa.
b. Mengobservasi (mengamati) pengaruh kegiatan pembelajaran yang sedang/telah dilaksanakan terhadap perilaku dan sikap siswa.
c. Menilai portofolio siswa. Portofolio adalah kumpulan karya siswa selama jangka waktu tertentu, yang menggambarkan ketrampilan, gagasan, minat, dan prestasi siswa, yang wujudnya berupa tulisan, gambar, benda, atau model fisik.
d. Mencermati jurnal siswa. Jurnal adalah ungkapan hasil refleksi pribadi siswa mengenai proses dan hasil belajarnya, yang dituangkan dalam bentuk tulisan, gambar, dan bentuk lainnya.