Tampilkan postingan dengan label Kurikulum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kurikulum. Tampilkan semua postingan

PERTANYAAN UNTUK KURIKULUM

Setelah anda mengikuti posting tentang kurikulum pada posting sebelumnya, coba anda jawab pertanyaan berikut.

Ada 9 prinsip Kurikulum 2004
,
Dari pengalaman selama ini, prinsip-prinsip mana yang sudah Anda laksanakan? Bagaimana cara Anda melaksanakannya?

Ada 5 karakteristik Kurikulum 2004,
Menurut Anda, apakah semua karakteristik itu dapat diwujudkan di kelas? Bagaimana usul Anda?

Ada 5 tujuan Mata Pelajaran Matematika,
Menurut Anda, apakah semua tujuan itu dapat dicapai oleh siswa? Bagaimana usul Anda?

Ada 8 prinsip Pembelajaran Matematika,
Dari pengalaman selama ini, prinsip-prinsip mana yang sudah Anda laksanakan? Bagaimana cara Anda melaksanakannya?

PRINSIP-PRINSIP PEMBELAJARAN MATEMATIKA

Oleh : Susento dan M. Andy Rudhito
Pendidikan Matematika
FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Dalam Kurikulum 2004, pembelajaran matematika menganut prinsip-prinsip sebagai berikut:

1. Prinsip pedagogis (pendidikan) secara umum:
Pembelajaran diwali dari kongkrit menuju ke abstrak, dari sederhana menuju ke kompleks (rumit), dan dari mudah menuju ke sulit dengan menggunakan berbagai sumber belajar.
2. Konstruktivisme:
Belajar akan bermakna bagi siswa apabila mereka aktif dengan berbagai cara untuk mengkonstruksi (membangun) sendiri pengetahuannya. Dalam hal ini tugas guru adalah menciptakan lingkungan belajar yang memungkinkan siswa melakukan penemuan-ulang konsep, rumus, atau prinsip matematika di bawah bimbingan guru (proses reinvensi terbimbing / guided reinvention).
3. Pendekatan pemecahan masalah:
Pendekatan pemecahan masalah merupakan fokus dalam pembelajaran matematika. Siswa diberi kesempatan untuk banyak memecahkan masalah dengan cara sendiri. Selain masalah tertutup (hanya mempunyai satu solusi), siswa juga perlu menghadapi masalah terbuka (mempunyai lebih dari satu solusi).
4. Variasi strategi pembelajaran:
Dalam pembelajaran matematika, guru perlu mengkombinasikan berbagai strategi pembelajaran, seperti ekspositori (pemberian penjelasan), inkuiri (penyelidikan), penugasan, dan permainan.
5. Variasi pengelolaan siswa:
Dalam pembelajaran matematika, guru perlu mengkombinasikan berbagai pengelolaan siswa, seperti kerja individual (perseorangan), kerja kelompok (cooperative learning), dan diskusi klasikal (melibatkan semua siswa di kelas secara bersama-sama).
6. Lingkungan fisik, sosial, dan budaya:
Setiap sekolah memiliki ciri khas lingkungan belajar, kelompok siswa, orangtua, dan masyarakat yang berbeda-beda dari segi fisik (alam, benda-beda), sosial, dan budaya. Guru perlu mengenali hal ini untuk menetapkan strategi pembelajaran, organisasi kelas, dan pemanfaatan sumber belajar yang efektif.
7. Masalah kontekstual sebagai titik pangkal (starting point):
Dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika dimulai dengan pengenalan dan pemecahan masalah kontekstual (masalah yang mengandung situasi yang sudah dikenal siswa dari pengalamannya), dan kemudian secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep atau prinsip matematika.
8. Kelompok siswa normal, sedang, dan tinggi:
Dalam pembelajaran matematika, guru melayani semua kelompok siswa, baik yang normal, sedang, mau pun tinggi. Dalam hal ini guru perlu mengenal dan mengidentifikasi kelompok-kelompok tersebut. Kelompok normal adalah kelompok yang memerlukan waktu belajar relatif lebih lama dari kelompok sedang, sehingga perlu diberikan pelayanan dalam bentuk menambah waktu belajar atau memberikan remediasi (kegiatan pembelajaran untuk membantu siswa mengatasi kesulitan belajar). Sedangkan kelompok tinggi adalah kelompok yang memiliki kecepatan belajar lebih cepat dari kelompok sedang, sehingga guru dapat memberikan pelayanan dalam bentuk akselerasi (percepatan) belajar atau pemberian materi pengayaan.

TUJUAN MATA PELAJARAN MATEMATIKA

Oleh : Susento dan M. Andy Rudhito
Pendidikan Matematika
FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta


Mata pelajaran matematika bertujuan agar siswa memiliki kompetensi-kompetensi sebagai berikut:

1. Pemahaman konsep:
Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep secara luwes (fleksibel), akurat (cermat), efisien (tepat guna), dan tepat dalam pemecahan masalah.
2. Penalaran matematis:
Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, dan menjelaskan gagasan atau pernyataan matematika.
3. Pemecahan masalah:
Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model matematika, dan menafsirkan solusi (penyelesaian masalah) yang diperoleh.
4. Komunikasi matematis:
Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah.
5. Apresiasi (penghargaan) matematika:
Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

KARAKTERISTIK (CIRI-CIRI) KURIKULUM 2004

Oleh : Susento dan M. Andy Rudhito
Pendidikan Matematika
FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta


Kurikulum 2004 merupakan kurikulum berbasis kompetensi, yang memiliki karakteristik sebagai berikut:

1. Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa, baik secara individual maupun klasikal:
Kompetensi dijadikan tolok ukur tingkat keberhasilan siswa mengikuti proses pembelajaran. Artinya, seorang siswa dikatakan berhasil jika mampu menunjukkan penguasaan, ketrampilan, atau sikap tertentu sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan.
2. Berorientasi pada hasil belajar dan keberagaman:
Proses pembelajaran dapat dilakukan secara beragam sesuai dengan kondisi (keadaan) dan karakteristik (ciri-ciri) siswa, sepanjang prosedur dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.
3. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi:
Proses pembelajaran akan mencapai hasil yang optimal (terbaik) jika diimbangi oleh variasi pendekatan dan metode. Variasi pendekatan meliputi pendekatan individual, kelompok, maupun klasikal. Variasi metode meliputi metode bertanya, mempertanyakan, diskusi, dan menjelaskan.
4. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber-sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif:
Di samping guru, sumber-sumber belajar lain perlu dimanfaatkan secara optimal, di antaranya lingkungan sekitar, perpustakaan, nara sumber, media elektronik, dan komputer.
5. Penilaian menekankan pada proses dan hasil dalam upaya pencapaian kompetensi:
Penilaian proses ditujukan untuk melihat prosedur dan keterlibatan siswa dalam suatu kegiatan. Sedangkan penilaian hasil difokuskan pada tingkat pencapaian kompetensi siswa sesuai dengan rumusan kompetensi yang ditetapkan.

PRINSIP-PRINSIP KURIKULUM 2004

Oleh : Susento dan M. Andy Rudhito
Pendidikan Matematika
FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta


Kurikulum 2004 adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai kompetensi yang dibakukan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional dan yang cara pencapaiannya disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan daerah atau sekolah. Yang dimaksud kompetensi adalah perpaduan antara pengetahuan, ketrampilan, sikap, dan nilai-nilai yang terwujud dalam kebiasaan berpikir dan bertindak.

Prinsip-prinsip (aturan dasar) yang dianut oleh Kurikulum 2004 meliputi:
1. Keimanan, nilai dan budi pekerti luhur:
Keyakinan dan nilai-nilai yang dianut masyarakat berpengaruh pada sikap dan arti kehidupan siswa. Keimanan, nilai dan budi pekerti luhur perlu digali, dipahami, dan diamalkan oleh siswa.
2. Penguatan integritas nasional:
Penguatan integritas (kesatuan) nasional dicapai melalui pendidikan yang memberikan pemahaman tentang masyarakat Indonesia yang majemuk dan kemajuan peradaban bangsa Indonesia dalam tatanan peradaban dunia yang multikultur dan multibahasa.
3. Keseimbangan etika (tata susila), logika (nalar), estetika (keindahan), dan kinestetika (gerak badan):
Keseimbangan pengalaman belajar siswa yang meliputi etika, logika, estetika, dan kinestetika dangat dipertimbangkan dalam penyusunan kurikulum dan hasil belajar.
4. Adaptasi (penyesuaian diri) terhadap abad pengetahuan dan teknologi informasi:
Kemampuan berpikir dan belajar dengan mengakses (menangkap), memilih, dan menilai pengetahuan untuk mengatasi situasi yang cepat berubah dan penuh ketidakpastian merupakan kompetensi penting dalam menghadapi abad ilmu pengetahuan dan teknologi informasi.
5. Pengembangan kecakapan hidup (life skill):
Kurikulum perlu memasukkan unsur kecakapan hidup agar siswa memiliki ketrampilan, sikap, dan perilaku adaptif (mampu menyesuaikan diri), kooperatif (sedia kerja sama), dan kompetitif (siap bersaing) dalam menghadapi tantangan dan tuntutan kehidupan sehari-hari secara efektif (mencapai hasil).
6. Kesamaan memperoleh kesempatan:
Penyediaan tempat yang memberdayakan semua siswa untuk memperoleh pengetahuan, ketrampilan, dan sikap sangat diutamakan. Seluruh siswa dari berbagai kelompok, seperti kelompok yang kurang beruntung, yang berbakat, dan yang unggul, berhak menerima pendidikan yang tepat sesuai dengan kemampuan dan kecepatannya.
7. Belajar sepanjang hayat:
Pendidikan berlanjut sepanjang hidup untuk mengembangkan, manambah kesadaran, dan selalu belajar memahami dunia yang selalu berubah dalam berbagai bidang.
8 Berpusat pada siswa dengan penilaian yang berkelanjutan dan komprehensif (mencakup banyak hal):
Upaya memandirikan siswa untuk belajar, bekerja sama, dan menilai diri sendiri sangat perlu diuatamakan, agar siswa mampu membangun pemahaman dan pengetahuannya. Penilaian berkelanjutan dan komprehensif menjadi sangat penting dalam rangka mencapai upaya tersebut.
9. Pendekatan menyeluruh dan kemitraan (partnership):
Semua pengalaman belajar dirancang secara berkesinambungan mulai dari TK s.d. Kelas XII. Pendekatan yang digunakan dalam mengorganisasikan pengalaman belajar berfokus pada kebutuhan siswa yang bervariasi dan mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu. Pengalaman belajar hendaknya melibatkan kemitraan antara guru dan siswa.