LINGKUNGAN PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISTIK

Oleh : Susento dan M. Andy Rudhito
Pendidikan Matematika
FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Dalam masa 100 tahun penelitian tentang belajar terdapat tiga macam pandangan mengenai belajar, yaitu belajar sebagai penguatan respon, belajar sebagai perolehan pengetahuan, dan belajar sebagai konstruksi pengetahuan (Mayer, 1999). Pandangan pertama berkembang dalam paruh pertama abad ke-20. Menurut pandangan ini, belajar terjadi melalui penguatan atau pelemahan asosiasi antara stimulus dan respon. Siswa berperan secara pasif dalam menerima penghargaan dan hukuman, sementara guru berperan dalam mengelola penghargaan dan hukuman.

Pandangan kedua yang berkembang dalam dasawarsa 1950-an sampai 1970-an, memandang bahwa belajar terjadi manakala siswa menyimpan informasi baru dalam memori jangka panjang. Peran siswa adalah menerima informasi secara pasif, sementara peran guru adalah menyajikan informasi. Informasi merupakan materi yang dapat ditransmisikan secara langsung dari guru kepada siswa.

Pandangan ketiga, yakni belajar sebagai konstruksi pengetahuan, mulai berkembang sejak dasawarsa 1980-an. Menurut pandangan ini, siswa secara aktif mengkonstruksi representasi pengetahuan dalam memori kerja. Siswa berperan sebagai pembangun makna, sementara guru berperan sebagai pemandu pemrosesan informasi menjadi makna. Guru bertugas menciptakan lingkungan belajar yang membuat siswa berinteraksi dengan bahan siswaan secara bermakna.

Pandangan kedua dan ketiga di atas sesuai dengan apa yang oleh Jonassen (1999) disebut konsepsi belajar secara objektivis dan konsepsi belajar secara konstruktivis. Konsepsi objektivis berasumsi bahwa pengetahuan dapat ditransfer dari guru atau ditransmisikan melalui teknologi. Menurut konsepsi ini, desain pembelajaran harus melibatkan kegiatan analisis, representasi, dan pengurutan bahan dan tugas agar dapat ditransmisikan ke siswa. Sebaliknya, konsepsi konstruktivis memandang bahwa pengetahuan tidak dapat sekadar ditransfer atau ditransmisikan. Konsepsi konstruktivis berasumsi bahwa pengetahuan dikonstruksi secara individual dan dikonstruksi bersama secara sosial oleh siswa berdasarkan interpretasi terhadap pengalaman. Oleh karena itu, pembelajaran harus berisi pengalaman-pengalaman yang memfasilitasi terjadinya konstruksi pengetahuan.

Jonassen (1999) mengusulkan sebuah model untuk mendesain lingkungan pembelajaran konstruktivis (Gambar 1). Model ini menggunakan masalah, pertanyaan, atau proyek sebagai fokus lingkungan pembelajaran. Sasarannya adalah siswa menginterpretasikan dan memecahkan masalah, menjawab pertanyaan, atau menyelesaikan proyek. Kegiatan ini didukung dengan sistem pendukung yang meliputi kasus-kasus terkait, sumber informasi, sarana kognitif, komunikasi/kolaborasi, dan dukungan sosial/kontekstual. Kasus-kasus terkait dan sumber informasi mendukung pemahaman masalah dan memberikan gagasan akan solusi yang mungkin. Sarana kognitif membantu siswa menginterpretasi dan menangani aspek-aspek masalah. Komunikasi dan kolaborasi memungkinkan komunitas siswa bernegosiasi dan mengkonstruksi bersama makna-makna yang terkait dengan masalah. Dukungan sosial dan kontekstual membantu siswa dan guru dalam mengimplementasikan lingkungan pembelajaran.

Gambar 1. Model Jonassen untuk mendesain lingkungan pembelajaran konstruktivistik

Menurut model Jonassen, proses penyelesaian masalah/pertanyaan/proyek melibatkan kegiatan-kegiatan belajar berupa eksplorasi, artikulasi, dan refleksi. Eksplorasi meliputi penyelidikan kasus-kasus terkait untuk memperoleh kemiripan-kemiripan, dan pengolahan sumber informasi untuk menemukan bahan-bahan yang diperlukan. Artikulasi adalah kegiatan siswa mengkomunikasikan apa yang telah dilakukan dalam usaha menyelesaikan masalah/pertanyaan/proyek, alasan tindakan, dan strategi yang digunakan. Eksplorasi dan artikulasi melibatkan refleksi siswa dalam bentuk yang berbeda. Ketika bereksplorasi siswa melakukan refleksi dalam tindakan (reflection-in action), sedangkan dalam kegiatan artikulasi siswa melakukan refleksi tentang tindakan (reflection-on-action).

Kegiatan-kegiatan belajar siswa di atas didukung kegiatan guru yang meliputi pemodelan, bimbingan, dan pemberian topangan. Pemodelan berupa kegiatan guru mendemonstrasikan cara melaksanakan kegiatan seperti yang dimaksud dalam struktur kegiatan, atau mengartikulasikan penalaran dan pengambilan keputusan yang terlibat dalam kegiatan pemecahan masalah. Bimbingan meliputi kegiatan guru memberikan rangsangan motivasi, memonitor dan mengarahkan unjuk-kerja siswa, mendorong siswa melakukan refleksi, dan membantu siswa memperbaiki model pemikiran. Topangan adalah pemberian dukungan kepada siswa agar siswa mampu memecahkan masalah yang berada di luar jangkauannya. Topangan diwujudkan antara lain dengan menyesuaikan tingkat kesulitan tugas, menyusun-ulang tatanan tugas, dan menyiapkan cara penilaian alternatif.

Lingkungan pembelajaran konstruktivis yang diusulkan Jonassen (1999) memfasilitasi proses konstruksi pengetahuan dengan bertitik tolak dari kegiatan penyelesaian masalah/pertanyaan/proyek. Mayer (1999) mengembangkan model belajar konsruktivis dengan titik tolak yang lain, yaitu berupa kegiatan pemahaman bahan pelajaran yang disajikan dalam buku teks atau lingkungan multimedia. Model ini disajikan dalam Gambar 2, dan oleh Mayer disebut model seleksi-organisasi-integrasi.

Gambar 2. Model seleksi-organisasi-integrasi

Model seleksi-organisasi-integrasi membedakan antara memori kerja visual dan memori kerja pendengaran. Bahan yang disajikan secara visual seperti gambar dan teks diseleksi untuk menghasilkan citra, yang kemudian diorganisasikan menjadi representasi visual dalam memori kerja visual. Sedangkan bahan yang disajikan dalam bentuk pendengaran diseleksi untuk menghasilkan suara, yang kemudian diorganisasikan menjadi representasi verbal dalam memori kerja pendengaran. Kintsch (dalam Meyer, 1999) menyebut proses pengorganisasian representasi dalam memori kerja sebagai membangun model situasi dari informasi yang tersaji. Kedua macam model atau representasi yang dihasilkan dalam memori kerja kemudian diintegrasikan, yaitu dilakukan pengkaitan satu-satu antara unsur-unsur keduanya yang bersesuaian dengan menggunakan pengetahuan sebelumnya. Langkah terakhir proses belajar adalah penyimpanan hasil integrasi tersebut dalam memori jangka panjang.

Dengan demikian, belajar secara konstruktivis merupakan proses membangun makna yang aktif, melibatkan berbagai macam proses kognitif dalam pikiran siswa. Dalam membangun makna dibutuhkan tiga macam proses kognitif, yaitu memusatkan perhatian pada informasi yang relevan, mengorganisasikan informasi itu menjadi representasi-representasi yang saling terkait dalam pikiran, dan mengintegrasikan representasi-representasi itu dengan pengetahuan yang telah dimiliki.

bersambung ke LINGKUNGAN PEMBELAJARAN KONTEKTUAL

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar